Book Review: Debu Cintayana
Membaca novel menjadi salah satu kegemaran saya, selain memasak tentunya. Berbeda dengan suami saya yang gemar dengan segala hal yang menyangkut sepakbola dan blog. Jadi coretan ini sebenarnya perpaduan dari keluh kesah pikiran saya dan gerak lincah jari-jari suami saya di atas keyboard, dan hasil coretan pun harus di-nongol-kan di media blog milik suami saya, bolaitubulat dot com.
Ada sebuah novel yang cukup membuat saya terpekur untuk menghela napas sejenak, sekedar untuk memejamkan mata sepersekian detik dan menerbangkan asa seribu milyar kilometer sejauh otak ini mampu berkhayal. Novel itu berjudul Debu Cintayana, karya Budi Hermanto.
Sebuah judul dengan 2 suku kata yang terdengar asing dan aneh bagi manusia awam seperti saya. Debu, adalah kotoran yang karena kecil dan tipisnya menjadi sulit untuk dilihat, banyak dijumpai berterbangan di jalan raya dan tentu saja sangat mengganggu penglihatan dan pernapasan kita. Cintayana, bisa berarti sebuah cerita cinta, atau yang tercinta. Jadi Debu Cintayana secara harfiah di mata saya bisa berarti cerita cinta yang berterbangan, atau mungkin kotoran yang tercinta. Ah, entahlah, mungkin anda-anda sekalian mempunyai mata harfiah dengan pengartian yang lebih tepat.
Debu Cintayana menceritakan sosok tokoh utama seorang gadis muda bernama Evelyne. Biasa dipanggil Ev, gadis keturunan Madura dan Rusia ini merantau dari tanah kelahirannya di Gorontalo menuju Surabaya dengan berbekal beasiswa. Kehidupan perkuliahan di kota besar bercampur dengan berbagai macam asin manis pengalaman bersosialisasi yang tidak pernah dia alami di kota kelahirannya.
Dalam cerita Debu Cintayana, Evelyne bertemu dengan sosok-sosok kehidupan seperti guide muda yang lebih dewasa dari usianya, laki-laki penolong dengan sapu tangan biru, gadis tionghoa nan periang, tomat bernama tom, ibu muda penjaring bayam di bawah jembatan, perempuan wakil dunia di Aceh hingga raibnya Najwa Blue Paningal.
Debu Cintayana cukup banyak mengingatkan mata, telinga, hidung, lidah dan kulit saya untuk tidak sekedar melihat, mendengar, menghidup, mengecap dan meraba saja dalam menjalani kehidupan ini. Tapi setidaknya bisa mencoba mengharmonikan diri bersama manusia-manusia, tumbuhan-tumbuhan dan hewan-hewan yang ada di sekitar kita.
Dan bahkan dari semua itu, yang terutama dari Debu Cintayana adalah pesan agar para sosok perempuan bisa tetap memiliki cinta, keyakinan dan rasa perjuangan yang tanpa batas. Bukan untuk menjadi perempuan super yang dengan mudah memberantas segala rintangan. Tapi menjadi perempuan se-normal-nya yang selalu belajar, berusaha dan berpikir optimis tanpa pernah merasa lebih benar dari semuanya.
Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp.
Posted with WordPress for BlackBerry.
blog, bolaitubulat.com, book review contest, budi hermanto, debu cintayana, jaring pena, jawa pos group, novel

Saya telah membaca dengan cermat artikel sahabat.
Segera saya catat sebagai peserta kontes.
Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Salam hangat dari Jombang
sepertinya menarik nih novel..tapi saya kurang suka sama novel cinta..:)..salam
oding recently posted..Alasan Sebelum Redesain Web
Now I know who the brainy one is, I’ll keep lokiong for your posts.
Sepertinya ini buku percetakan indi ya Mbak? kok jarang lihat di Gramedia?
Pin my tail and call me a donkey, that really hpeled.
Hi, All… Penulisnya KK kelas gw tuh (huhui….)
Buat mas Budi + bolaitubulat: Keep Writing, suatu saat tulisan kita pasti akan semahal EMAS!!!
Tunggu aja waktunya, dan jangan berenti berkarya…..
I’m so glad that the inretent allows free info like this!
Calling all cars, cllaing all cars, we’re ready to make a deal.